Detail Berita

24 September 2026

Multifinance Makin Selektif Salurkan Pembiayaan UMKM di Tengah Risiko Kredit Macet

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan pembiayaan (multifinance) mulai menghadapi dilema dalam memperluas pembiayaan ke sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kebutuhan modal pelaku usaha tetap tinggi, tetapi peningkatan risiko kredit membuat multifinance harus lebih berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan. 

Berdasarkan data perbankan per Juni 2026, rasio kredit macet atau non-performing loan (NPL) segmen UMKM tercatat mencapai 4,54%. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan industri pembiayaan ketika mengejar pertumbuhan portofolio. 

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai kondisi tersebut menciptakan dua tren yang berjalan bersamaan di industri pembiayaan. 

Di satu sisi, sektor UMKM masih menunjukkan optimisme yang cukup kuat dengan aktivitas usaha yang secara umum berada di zona ekspansi. Namun, di sisi lain, kenaikan biaya bahan baku, tekanan inflasi, serta suku bunga yang relatif tinggi membuat ruang keuntungan pelaku usaha semakin terbatas. 

Situasi tersebut membuat perusahaan pembiayaan berada dalam posisi yang tidak mudah. "Debitur menghadapi beban operasional dan cicilan yang lebih be

rat, sementara multifinance juga menghadapi kenaikan biaya dana karena sumber pendanaannya masih didominasi perbankan," ujarnya kepada Kontan, Rabu (23/9/2026). 

Pada saat yang sama, kualitas aset menjadi perhatian karena tingkat pembiayaan bermasalah mulai meningkat. Terlebih, segmen UMKM telah menjadi porsi yang signifikan dalam portofolio industri multifinance. 

Dengan kondisi tersebut, pembiayaan UMKM tetap dibutuhkan, tetapi penyalurannya harus dilakukan dengan seleksi yang lebih ketat. 

Multifinance ubah strategi pembiayaan UMKM 

Yusuf menilai kenaikan risiko kredit tidak serta-merta membuat industri multifinance menghentikan penyaluran pembiayaan kepada UMKM. 

Perusahaan pembiayaan justru mulai mengubah strategi dari mengejar pertumbuhan volume menjadi menjaga kualitas portofolio. Perusahaan multifinance dengan kualitas aset yang sedang tertekan cenderung menahan ekspansi dan memperketat proses kredit. Sementara itu, multifinance yang memiliki permodalan dan manajemen risiko lebih kuat masih mempunyai ruang untuk menyalurkan pembiayaan. 

Pembiayaan terutama dapat diarahkan pada kebutuhan modal kerja produktif yang berkaitan dengan aktivitas usaha sehari-hari. 

"Jadi yang terjadi bukan rem total, melainkan proses seleksi yang lebih ketat terhadap calon debitur," katanya. 

Dalam kondisi tersebut, Yusuf mengatakan pendekatan berbasis arus kas menjadi semakin penting dalam proses penilaian kredit. Multifinance perlu melihat kemampuan usaha dalam menghasilkan pendapatan sekaligus memenuhi kewajiban pembayaran, bukan hanya mengandalkan nilai agunan. 

Menurut dia, verifikasi omzet, analisis arus kas, pemantauan dini, pemanfaatan data kredit, serta skema penjaminan menjadi sejumlah instrumen yang relevan untuk memperkuat mitigasi risiko pembiayaan UMKM. 

Seleksi sektor usaha 

Selain memperketat proses kredit, multifinance juga perlu lebih selektif dalam memilih sektor usaha yang akan dibiayai. 

Segmen usaha yang ditopang permintaan riil dan memiliki proyek yang sedang berjalan masih mempunyai peluang untuk memperoleh pembiayaan. Sebaliknya, sektor yang sangat bergantung pada faktor cuaca atau menghadapi tingkat ketidakpastian tinggi perlu dicermati lebih hati-hati. 

Yusuf juga menilai restrukturisasi pembiayaan perlu dilakukan lebih dini. Perusahaan pembiayaan tidak seharusnya baru melakukan intervensi setelah debitur mulai mengalami tunggakan. 

Penanganan lebih awal dinilai dapat membantu menjaga kualitas pembiayaan sebelum kredit masuk ke kondisi yang lebih buruk. 

Di sisi pendanaan, diversifikasi sumber dana juga diperlukan agar kenaikan biaya dana tidak sepenuhnya diteruskan kepada debitur. Sebab, peningkatan beban pembiayaan berpotensi semakin menekan kemampuan bayar pelaku UMKM. 

Pembiayaan UMKM berpeluang tumbuh di kuartal IV 

Memasuki akhir 2026, Yusuf melihat peluang pertumbuhan pembiayaan UMKM masih terbuka. Salah satu pendorongnya adalah kebutuhan modal kerja yang biasanya meningkat pada kuartal IV. 

Meski demikian, pertumbuhan pembiayaan UMKM diperkirakan akan berlangsung lebih selektif dibandingkan periode sebelumnya. Multifinance akan lebih mempertimbangkan kualitas debitur, kemampuan arus kas, sektor usaha, serta risiko pembiayaan sebelum memperluas portofolionya.