Detail Berita

25 Juni 2026

CNAF Optimistis Jaga Profitabilitas Meski Cost of Fund Berpotensi Naik

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) optimistis dapat menjaga pertumbuhan bisnis dan profitabilitas hingga akhir 2026 meski industri multifinance menghadapi tekanan kenaikan suku bunga acuan yang berpotensi meningkatkan biaya dana (cost of fund) dan risiko pembiayaan bermasalah. 

Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman mengatakan, peningkatan suku bunga acuan dan kualitas pembiayaan menjadi tantangan yang tidak bisa dihindari karena dapat memengaruhi biaya dana maupun kebutuhan pencadangan kerugian nilai. 

Kendati begitu, CNAF bilang, tantangan tersebut masih dapat dikelola melalui penerapan manajemen risiko yang disiplin, fokus pada segmen pembiayaan berkualitas, kemampuan beradaptasi terhadap dinamika pasar, serta diversifikasi sumber pendanaan. 

“CNAF optimistis dapat menjaga pertumbuhan bisnis dan profitabilitas hingga akhir tahun 2026,” ujar Ristiawan kepada Kontan, Rabu (24/6/2026). 

Menurutnya, tekanan terhadap cost of fund dan risiko kredit bermasalah memang berpotensi memengaruhi margin pembiayaan maupun pertumbuhan laba. 

Namun, CNAF menyebut telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif untuk menjaga struktur permodalan dan kualitas pembiayaan tetap sehat. 

Ristiawan menyebut strategi diversifikasi sumber pendanaan yang dijalankan perusahaan sejauh ini mampu menjaga cost of fund tetap terkendali. Karena itu, CNAF akan terus melakukan penyesuaian bisnis guna mengantisipasi berbagai tekanan yang muncul akibat perubahan kondisi ekonomi dan suku bunga. 

“Dengan strategi yang dijalankan, tekanan terhadap margin dapat diminimalkan dan pertumbuhan laba tetap tumbuh sehat dan berkelanjutan,” katanya. 

Untuk menjaga profitabilitas, CNAF juga akan memperkuat penyaluran pembiayaan yang lebih selektif dengan fokus pada segmen-segmen berkualitas. Selain itu, perusahaan memperketat manajemen risiko guna menjaga portofolio pembiayaan tetap pruden. 

Dari sisi bisnis, CNAF telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 3,19 triliun hingga Mei 2026. 

Adapun perusahaan optimistis kinerja pembiayaan tetap solid hingga akhir tahun meski industri dihadapkan pada tantangan kenaikan suku bunga dan potensi peningkatan risiko kredit.